Sebagai seorang pria, saya orang yg berpendirian teguh, berani ambil resiko & dapat membuat keputusan dgn cepat, tahu banyak hal, rasanya juga jarang membuat kesalahan & kalau adapun saya akan bertanggungjawab & segera memperbaikinya.

Hal yang sangat positif bukan?

Tetapi jika kita sudah menikah dan tidak sensitif dgn pasangan kita, maka hal positif di atas bisa berubah jadi hal negatif.

Bependirian teguh bisa jadi keras kepala.
Berani ambil resiko bisa dibilang terlalu nekat gak punya perhitungan.
Dapat membuat keputusan dgn cepat bisa dinilai terlalu gegabah.
Tahu banyak hal jadi sok paling tahu.
Jarang buat kesalahan jadi selalu paling benar & gak pernah mau mengakui kesalahan.
Bertanggung jawab untuk bisa segera memperbaiki jadi apa gunanya ketika semua sdh terlambat.
Perkataan yg keluar selanjutnya yang sering kali jadi begitu familiar:

Seharusnya kamu dengerin saya sebagai istrimu.

I hate it when she is right!

Selama menjalani pernikahan saya terus belajar menjadi suami yang baik, walaupun masih sering egois & jauh dari sempurna.

Saya terus belajar berkomunikasi dgn baik kepada istri, mendengarkan bukan hanya dgn telinga tetapi dengan hati. Menahan perkataan & pikiran logis seorang pria utk bisa merasakan kekhawatiran & hati seorang wanita.

Menyadari sesungguhnya Tuhan kirim dia dalam hidup saya untuk menjadi seorang penolong yang bisa menolong hidup saya untuk menggenapi visi2 Tuhan dalam hidup ini.

Ketika saya melakukan hal di atas, respon sayapun berubah: I love it when she is right!

Hari ini saya mau belajar bergerak bersama dengannya seperti penari tango: memimpin gerakan tetapi dgn perlahan, berhati2 tidak menginjak kakinya, mendekap dengan erat sehingga hati melekat & berliuk2 dgn kekompakan sehingga menghasilkan tarian yg indah.

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah

Yakobus 1:19

BTW…. Ini saya doang apa semua pria kayak gini ya??

#pursuingLOVE

Leave a Reply